{"id":1036,"date":"2019-08-14T08:56:00","date_gmt":"2019-08-14T08:56:00","guid":{"rendered":"https:\/\/wargaupadayabogor.or.id\/index.php\/2019\/08\/14\/artikel-7-tips-pengasuhan-anak-di-era-digital-dari-psikolog-elly-risman\/"},"modified":"2019-08-14T08:56:00","modified_gmt":"2019-08-14T08:56:00","slug":"artikel-7-tips-pengasuhan-anak-di-era-digital-dari-psikolog-elly-risman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wargaupadayabogor.or.id\/index.php\/2019\/08\/14\/artikel-7-tips-pengasuhan-anak-di-era-digital-dari-psikolog-elly-risman\/","title":{"rendered":"Artikel : 7 Tips Pengasuhan Anak di Era Digital dari Psikolog Elly Risman"},"content":{"rendered":"<div style=\"background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px; margin-bottom: 30px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEj1Dwl_Dtnch7AyRcP-UIe90t82ZwvGgrwoltgP_r6p__d2o9T1ffZz2dc-ATbvzpUHJl3mExzTaprIrk61c1Hz2BJz3hF6JAX-r-aqDPY1V_4YBCqQhWWRrwlhcJVr-kPuAXLsjX0_CiKb\/s1600\/P_20170423_094210.jpg\" style=\"clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"1200\" data-original-width=\"1600\" height=\"240\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEj1Dwl_Dtnch7AyRcP-UIe90t82ZwvGgrwoltgP_r6p__d2o9T1ffZz2dc-ATbvzpUHJl3mExzTaprIrk61c1Hz2BJz3hF6JAX-r-aqDPY1V_4YBCqQhWWRrwlhcJVr-kPuAXLsjX0_CiKb\/s320\/P_20170423_094210.jpg\" width=\"320\" \/><\/a>Membesarkan anak di zaman millenial butuh usaha ekstra dibanding puluhan tahun yang lalu. Perkembangan dunia digital tak hanya memberi kemudahan, malah kadang membuat gap antara orangtua dan anak. Tak jarang berakhir dengan anak yang membangkang atau masalah lainnya.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nPsikolog dan Pendiri Yayasan Kita dan Buah Hati Elly Risman berbagi tujuh cara mengasuh anak di era digital yang bisa dipraktikkan agar hubungan antara orangtua dan anak tetap terjaga.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"box-sizing: border-box;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<strong style=\"border: 0px; box-sizing: border-box; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">1. Tanggung Jawab Penuh<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nKetika bicara mengenai pola asuh anak, peran seorang ibu seringkali dianggap hal paling utama. Padahal menurut Elly, sosok ayah dalam mendidik anak tak kalah penting. Di era digital seperti sekarang ini, ayah dan ibu harus memiliki pandangan yang sama, yaitu sama-sama bertanggungjawab atas jiwa, tubuh, pikiran, keimanan, kesejahteraan anak secara utuh. Masih banyak orangtua muda masa kini yang melepaskan anak-anaknya secara total di tangan orang ketiga, entah mertua atau pembantu. Namun jika hal ini terpaksa dilakukan, maka perlu dicek kembali bagaimana sejarah dari orang yang Anda rekrut untuk menjaga buah hati.<\/div>\n<\/div>\n<p><ins data-ad-client=\"ca-pub-2555727086443026\" data-ad-format=\"fluid\" data-ad-layout=\"in-article\" data-ad-slot=\"2371547516\" style=\"display: block; text-align: center;\"><\/ins><\/p>\n<p><\/p>\n<div style=\"border: 0px; box-sizing: border-box; font-size: 18px; height: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">\n<\/div>\n<div style=\"border: 0px; box-sizing: border-box; font-size: 18px; height: 0px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline; width: 0px;\">\n<ins data-revive-blockwords=\"rusak,mani,narkoba,nakal,menyebalkan,kalah,seks,agama\" data-revive-category=\"health&amp;fitness\" data-revive-flags=\"controversial\" data-revive-id=\"e91f95c5fd756b81263fe39d57b4175c\" data-revive-keyword=\"7 tips pengasuhan anak era digital psikolog elly risman 7 tips pengasuhan anak era digital psikolog elly risman alissa safiera wolipop jumat 27 mei 2016 1832 wib foto thinkstock jakarta membesarkan anak zaman millenial butuh usaha ekstra dibanding puluhan perkembangan dunia digital kemudahan kadang gap orangtua anak jarang anak membangkang psikolog pendiri yayasan buah hati elly risman berbagi tujuh mengasuh anak era digital dipraktikkan hubungan orangtua anak terjaga 1 tanggung penuh bicara pola asuh anak peran seringkali dianggap utama elly sosok ayah mendidik anak kalah era digital ayah memiliki pandangan samasama bertanggungjawab jiwa tubuh pikiran keimanan kesejahteraan anak utuh orangtua muda melepaskan anakanaknya total tangan orang ketiga mertua pembantu terpaksa dicek sejarah orang rekrut menjaga buah hati tesis membahas peran ayah anakanak sosok ayah anak laki nakal agresif narkoba seks bebas anak perempuan depresi seks bebas ayah pulang kerumah era digital elly plaza selatan senayan jakarta pusat kamis 2652016 2 kedekatan kedekatan ayah anak anak kedekatan melekat kulit kulit jiwa jiwa pasangan memeluk sang anak emosional anak jiwanya hampa elly 3 tujuan pengasuhan riset lakukan 2545 ekonomi menengah menengah tujuan pengasuhan anak bawa elly menyarankan orangtua merumuskan tujuan pengasuhan anak dilahirkan kesepakatan suami prioritas anak pendekatannya 4 berbicara baikbaik orangtua belajar berbicara baikbaik anak membohongi lupa membahas keunikan anak membaca bahasa tubuh mendengar perasaan anak menyalahkan memerintah mencap membandingkan komunikasi anak berharga terbiasa memilih mengambil keputusan 5 mengajarkan agama kewajiban orangtua mengajarkan anakanaknya agama pendidikan agama ditanam sedini mengajarkan agama terbatas membaca alquran berpuasa pergi gereja orangtua menanamkan emosional anak menyukai aktivitas kosong dimasukkan sekolah agama dasarnya suka berbeda suka orangtua 6 persiapkan anak masuk pubertas kebanyakan orangtua malu membicarakan seks anak cenderung menghindarinya elly pembicaraan bahasa mengikuti usianya air mani menstruasi aktif seksual telat menanamkan pemahaman seks ya sukasukanya anak bebas elly 7 persiapkan anak masuk era digital memberikannya gadget bayi mengajarkan anak penggunaan gadget memiliki batasan akses internet dibatasi mencegah anak situs ajarkan menahan pandangan menjaga kemaluan otakmu rusak kemaluanmu dikendalikan membicarakan anak bersikap kedepankan komunikasi pengganti gadget contoh ajak anak bicara kali pulang sekolah halhal sekolah tugas menumpuk teman jahil guru menyebalkan berat untuknya elly menyarankan berkomunikasi perasaannya perasaannya membuatnya bahagia membuatnya sedih otomatis anak mudah bercerita kali merasakan anak dibatasi pegang gadget orangtua alternatif ayahnya rumah contohnya ikuti les berenang main basket futsal gitar disukai anak pungkas elly asfasf \" data-revive-zone style=\"border: 0px; box-sizing: border-box; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><\/ins><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<\/div>\n<div style=\"background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; clear: both !important; float: none !important; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px; height: 0px !important; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">\n<\/div>\n<p><center style=\"background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><\/p>\n<div style=\"border: 0px; box-sizing: border-box; margin: 0px 0px 30px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">\n<\/div>\n<p><\/center><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"background-color: white; font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px;\">&#8220;Sebuah tesis pernah membahas mengenai peran ayah. Anak-anak yang kurang sosok ayah, dan dia punya anak laki dia nakal, agresif, narkoba, seks bebas. Anak perempuan biasanya depresi, seks bebas. Jadi ayah harus selalu ada, pulang kerumah di era digital,&#8221; ujar Elly di Plaza Selatan, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (26\/5\/2016).<\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<strong style=\"background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">2. Kedekatan<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"background-color: white; font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px;\">Perlu adanya kedekatan antara ayah dan anak, juga ibu ke anak. Kedekatan ini bukan hanya berarti melekat dari kulit ke kulit, melainkan jiwa ke jiwa. Artinya, Anda dan pasangan tak bisa hanya sering memeluk sang anak namun juga harus dekat secara emosional. &#8220;Banyak anak yang tidak dapat hal itu dari kecil sehingga jiwanya hampa,&#8221; tambah Elly.<\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<strong style=\"background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">3. Harus Jelas Tujuan Pengasuhan<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"background-color: white; font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px;\">&#8220;Dari riset yang saya lakukan untuk ibu 25-45 tahun, bekerja tak bekerja, ekonomi menengah ke atas dan menengah ke bawah. Mereka tidak punya tujuan pengasuhan. Mereka tidak tahu anak ini mau di bawa ke mana?&#8221;<\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"background-color: white; font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px;\">Elly menyarankan agar orangtua mulai merumuskan tujuan pengasuhan sejak anak dilahirkan. Perlu membuat kesepakatan bersama suami, prioritas apa saja yang diberikan kepada anak dan bagaimana cara pendekatannya.<\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<strong style=\"background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">4. Berbicara Baik-baik<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"background-color: white; font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px;\">Orangtua harus belajar berbicara baik-baik dengan anak. Tidak boleh membohongi, lupa membahas keunikan anak, dan juga perlu membaca bahasa tubuh, serta mau mendengar perasaan anak.<\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"background-color: white; font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px;\">&#8220;Menyalahkan, memerintah, mencap, membandingkan, komunikasi seperti ini akan membuat anak merasa tak berharga, tak terbiasa memilih dan tak bisa mengambil keputusan.&#8221;&nbsp;<\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<strong style=\"background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">5. Mengajarkan Agama<\/strong><\/div>\n<p><ins data-ad-client=\"ca-pub-2555727086443026\" data-ad-format=\"fluid\" data-ad-layout=\"in-article\" data-ad-slot=\"2371547516\" style=\"display: block; text-align: center;\"><\/ins><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"background-color: white; font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px;\">Menjadi kewajiban orangtua untuk mengajarkan anak-anaknya tentang agama. Pendidikan tentang agama perlu ditanam sejak sedini mungkin. Dalam hal ini, mengajarkan agama tak hanya terbatas ia bisa membaca Al-Qur&#8217;an misalnya, bisa berpuasa atau pergi ke gereja. Orangtua perlu menanamkan secara emosional agar anak menyukai aktivitas itu.&nbsp;<\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"background-color: white; font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px;\">&#8220;Jangan kosong dan lalu dimasukkan ke sekolah agama. Tidak ada dasarnya jika begitu. Bisa dan suka itu berbeda. Bisa hanya sekadar melakukan, tapi jika suka, ada atau tidak ada orangtua dia akan tetap baik,&#8221; tuturnya.<\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<strong style=\"background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">6. Persiapkan Anak Masuk Pubertas<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"background-color: white; font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px;\">Kebanyakan orangtua malu membicarakan masalah seks dengan anak dan cenderung menghindarinya. Menurut Elly, pembicaraan justru perlu dimulai sejak dini dengan bahasa yang mengikuti usianya.&nbsp;<\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"background-color: white; font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px;\">&#8220;Kalau sudah keluar air mani, sudah menstruasi, itu artinya mereka sudah aktif secara seksual dan sudah telat untuk menanamkan tentang pemahaman seks. Ya jadi suka-sukanya anak, dia bebas melakukan berbagai macam hal,&#8221; tambah Elly.<\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<strong style=\"background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">7. Persiapkan Anak Masuk Era Digital<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"background-color: white; font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px;\">Bukan berarti Anda harus memberikannya gadget sejak bayi. Namun mengajarkan anak jika penggunaan gadget ada waktunya dan memiliki batasan untuk itu. Akses internet pun perlu dibatasi untuk mencegah anak melihat situs yang tidak diinginkan.&nbsp;<\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"background-color: white; font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px;\">&#8220;Ajarkan mereka untuk menahan pandangan, menjaga kemaluan. Karena jika otakmu rusak, kemaluanmu tidak bisa dikendalikan. Jika kita tidak membicarakan, anak tidak tahu bagaimana akan bersikap.&#8221; tuturnya.<\/span><\/div>\n<p><ins data-ad-client=\"ca-pub-2555727086443026\" data-ad-format=\"fluid\" data-ad-layout=\"in-article\" data-ad-slot=\"2371547516\" style=\"display: block; text-align: center;\"><\/ins><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"background-color: white; font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px;\">Kedepankan komunikasi sebagai pengganti gadget. Sebagai contoh, ajak anak bicara tiap kali pulang sekolah. Hal-hal di sekolah seperti tugas menumpuk, teman jahil atau guru menyebalkan sudah menjadi hal berat untuknya. Oleh karena itu, Elly menyarankan untuk berkomunikasi tentang perasaannya. Misalnya tanya perasaannya di hari itu, apa yang membuatnya bahagia dan apa yang membuatnya sedih. Dengan begitu, secara otomatis anak akan dengan mudah bercerita pada Anda tiap kali ia merasakan sesuatu.&nbsp;<\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<br style=\"background-color: white; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px;\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"background-color: white; font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px;\">&#8220;Ketika anak dibatasi dia pegang gadget, orangtua perlu beri alternatif lain. Tidak bisa kalau ibu atau ayahnya tidak di rumah. Contohnya ikuti les berenang, main basket, futsal, gitar atau apa yang disukai anak,&#8221; pungkas Elly.&nbsp;<\/span><strong style=\"background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">(asf\/asf)<\/strong><\/div>\n<p><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<span style=\"font-family: &quot;helvetica&quot; , &quot;arial&quot; , sans-serif; font-size: 18px; font-weight: 700;\"><br \/><\/span><\/div>\n<p><strong style=\"background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><\/strong><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<strong style=\"background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><strong style=\"border: 0px; box-sizing: border-box; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\">Sumber :&nbsp;<a href=\"https:\/\/wolipop.detik.com\/parenting\/d-3219694\/7-tips-pengasuhan-anak-di-era-digital-dari-psikolog-elly-risman\">https:\/\/wolipop.detik.com\/parenting\/d-3219694\/7-tips-pengasuhan-anak-di-era-digital-dari-psikolog-elly-risman<\/a><\/strong><\/strong><\/div>\n<p><strong style=\"background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: helvetica, arial, sans-serif; font-size: 18px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;\"><br \/>\n<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Membesarkan anak di zaman millenial butuh usaha ekstra dibanding puluhan tahun yang lalu. Perkembangan dunia digital tak hanya memberi kemudahan,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_blocks_custom_css":"","_kad_blocks_head_custom_js":"","_kad_blocks_body_custom_js":"","_kad_blocks_footer_custom_js":"","_kadence_starter_templates_imported_post":false,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"taxonomy_info":{"category":[{"value":1,"label":"Uncategorized"}]},"featured_image_src_large":false,"author_info":{"display_name":"Hilman","author_link":"https:\/\/wargaupadayabogor.or.id\/index.php\/author\/hilman\/"},"comment_info":0,"category_info":[{"term_id":1,"name":"Uncategorized","slug":"uncategorized","term_group":0,"term_taxonomy_id":1,"taxonomy":"category","description":"","parent":0,"count":84,"filter":"raw","cat_ID":1,"category_count":84,"category_description":"","cat_name":"Uncategorized","category_nicename":"uncategorized","category_parent":0}],"tag_info":false,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wargaupadayabogor.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1036"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wargaupadayabogor.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wargaupadayabogor.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wargaupadayabogor.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wargaupadayabogor.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1036"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wargaupadayabogor.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1036\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wargaupadayabogor.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1036"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wargaupadayabogor.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1036"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wargaupadayabogor.or.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1036"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}